Senin, 15 Januari 2018

Japan-IMF Scholarship Program for ASIA (JISPA) – Beasiswa S2 dan S3 di Jepang untuk PNS

Menjadi pegawai pemerintahan atau PNS di Indonesia ternyata memang menawarkan banyak keuntungan yang mana salah satunya adalah beasiswa untuk bisa melanjutkan kuliah S2 atau S3 di Jepang. Pihak pemerintah Jepang melalui kerja sama dengan IMF menawarkan skema beasiswa Japan-IMF Scholarship Program for ASIA. Program yang bisa diambil mencakup kuliah S2 dan S3 dalam bidang Ekonomi Makro secara khusus dan banyak lagi bidang lain namun terkait dengan bidang tersebut di berbagai universitas yang ada di Jepang.

Program beasiswa yang satu ini memiliki jalur open track yang terbuka untuk umum. Maksudnya adalah juga bahwa universitas yang bisa dipilih tidak terbatas hanya yang memang memiliki kerja sama dengan IMF saja. Jadi intinya universitas mana saja di Jepang bisa dipilih asalkan menawarkan bidang Ekonomi Makro yang sesungguhnya menjadi fokus program ini.

Para penerima program beasiswa ini nantinya akan mendapatkan beberapa keuntungan. Biaya pendaftaran dan perkuliahan, tiket pesawat, asuransi kesehatan dan kecelakaan, uang saku beserta biaya hidup dan akomodasi, serta biaya penelitian untuk progra S3. Namun perlu diketahui juga bahwa beasiswa yang diberikan hanya 1 tahun dengan adanya evaluasi untuk lanjutan beasiswa di tahun berikutnya. Pemberian beasiswa maksimal 2 tahun untuk S2 dan 3 tahun untuk S3 asalkan memang pihak pemberi beasiswa memutuskan penerima layak mendapatkan lanjutan beasiswa lepas dari tahun pertama. Jadi perlu juga disiapkan rencana cadangan untuk biaya semisal tidak mendapatkan lanjutan beasiswa selepas dari tahun pertama.

Berikut ini adalah persyaratan umum dan wajib untuk bisa mendaftarkan diri dan mengikuti seleksi program beasiswa S2 dan S3 di Jepang untuk PNS.

• Merupakan warganegara dari salah satu negara yang telah ditentukan (termasuk Indonesia)

• Merupakan pegawai dari salah satu instansi pemerintah atau terkait berikut:

Bank Sentral, Kementerian Perekonomian, Kementerian Keuangan, Kementerian Perencanaan Pembangunan, Kementerian Perdagangan, Direktorat Jenderal Pajak, Badan Pusat Statistik, atau Lembaga Regulasi Keuangan. Program ini juga mempertimbangkan para pegawai yang bekerja di bidang pemerintahan lainnya yang memiliki dampak signifikan pada perumusan atau pelaksanaan kebijaksanaan ekonomi makro.

• Memiliki gelar pendidikan Sarjana atau setara

• Memiliki kemampuan bahasa Inggris yang ditunjukkan dengan skor minimal TOEFL 550 / iBT 79-80 / IELTS 6.0

• Berkomitmen untuk memberikan kontribusi pada pembangunan di negara asal, dan bersedia kembali ke institusi tempat kerja di negara asal setelah menyelesaikan studi di Jepang

• Pelamar yang berusia di bawah 40 tahun; belum mendapatkan gelar Master dari universitas di luar negeri; memiliki pengalaman kerja minimum 2-3 tahun di sektor public lebih diprioritaskan

• Memiliki kondisi kesehatan jasmani dan mental yang baik

Kemudian selain persyaratan wajib seperti yang sudah disebutkan tadi, ada juga dokumen-dokumen yang memang dibutuhkan untuk seleksi beasiswa ini yaitu sebagai berikut:

• Formulir Aplikasi pada link berikuthttps://goo.gl/ndvBX8 

• Salinan resmi ijazah dan transkrip nilai gelar Sarjana atau Pascasarjana yang telah diambil. Salinan resmi artinya salinan dari dokumen asli dengan segel resmi yang diberikan oleh kantor administrasi universitas.

• 2 (Dua) Surat Referensi dari atasan di tempat kerja dan/atau pembimbing akademik atau profesor.

• Salinan resmi sertifikat TOEFL/IELTS (jika ada). Hasil tes TOEFL/IELTS tersebut harus merupakan tes yang diambil setelah tanggal 1 Desember 2015. Jika tidak memiliki sertifikat TOEFL/IELTS, pelamar akan diminta untuk mengikuti tes TOEFL/IELTS sebelum mendapatkan keputusan akhir pengumuman pemenang beasiswa (hanya untuk program bahasa Inggris).

• Surat penerimaan pendaftaran dari universitas yang dituju, atau salinan aplikasi pendaftaran ke universitas

• Tesis atau bentuk paper yang setara

Dalam hal persyaratan dokumen seperti yang sudah disebutkan tadi, semuanya harus dikumpulkan versi aslinya beserta versi terjemahan resmi dalam bahasa Inggris. Ketika nanti memenuhi pesyaratan maka dokumen yang sudah dikumpulkan tidak akn dikembalikan lagi. Proses pendaftarannya wajib dimulai dengan pendaftaran pada program S2 atau S3 yang diinginkan di universitas-universitas yang ada di Jepang. Kemudian selain itu kelengkapan dokumennya harus dikirimkan ke tujuan berikut ini.

Japan-IMF Scholarship Program for Asia

IMF Regional Office for Asia and the Pacific

21st Floor Fukoku-Seimei Building

2-2-2 Uchisaiwai-cho

Chiyoda-ku, Tokyo 100-0011

Japan

Informasi lebih lanjut misalkan dibutuhkan bisa didapatkan dengan menghubungi pihak penyedia beasiswa melalui email jisasis@imf.org atau langsung mengunjungi laman resminya di www.imf.org.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MAU DI LATIH BAHASA INGGRIS SAMPAI LANCAR?

Hubungi kami Sekarang, untuk Mendapatkan kesempatan Gratis Placement Test.

Ingin Meningkatkan Kemampuan Bahasa Inggris untuk :

1. Persiapan Masuk Kuliah/
     Universitas Favorit mu ( SMPTN )

2. Persiapan Beasiswa Ke luar
     negeri.

3. Persiapan mengikuti test TOEFL/
    IELTS.

4. Persiapan Wawancara Kerja.

   DLL

Kelas Baru di buka setiap hari Senin.
Dilatih oleh instruktur Profesional, satu-satu nya kursus Bahasa Inggris di LHOKSEUMAWE yang memberikan jaminan sampai Lancar.

Lavinia Disa: Luruskan Niat dan Jangan Patah Semangat untuk Kuliah di New Zealand

Lavinia Disa: Luruskan Niat dan Jangan Patah Semangat untuk Kuliah di New Zealand

Lavinia Disa Winona Araminta merupakan salah satu mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah di New Zealand tepatnya di The University of Auckland. Perempuan yang akrab disapa dengan nama Disa ini menempuh pendidikan Master of Arts in Applied Linguistics. Kuliah di negeri orang membuat Disa mendapatkan begitu banyak pengalaman berharga. Berikut ini Disa membagikan kisahnya kuliah di New Zealand.

Halo, nama saya Lavinia Disa Winona Araminta asal dari Semarang dan tinggal di Depok saat di Indonesia. Saat ini saya kuliah di The University of Auckland, New Zealand mengambil Master of Arts in Applied Linguistics sejak Juli 2015.

Awalnya, kenapa saya bisa kuliah di NZ, karena saya pertama mendengar informasi soal S2 di NZ saat perwakilan kedutaan NZ di Indonesia datang ke kampus S1 saya, Universitas Indonesia, untuk presentasi soal pendidikan di NZ. Saya mulai tertarik dan setelah riset sana-sini saya semakin yakin untuk melanjutkan S2 ke NZ. Apalagi saat menulis skripsi saya banyak mengutip buku dan artikel seorang professor di sini. Ini adalah salah satu alasan mengapa saya memilih untuk berkuliah di Auckland.

Di NZ saya kuliah MA in Applied Lingusitics dekat dengan TESOL atau pelajaran Bahasa Inggris tetapi lebih luas. Misalnya, bagaimana peneliti mengutip karya orang lain di penelitian mereka, kesulitan non-native speakers dalam menggunakan Bahasa Inggris, dan bagaimana otak pembelajar mengingat kosa kata dalam Bahasa Inggris.

Fasilitas kampus

Sangat lengkap dan mendukung. Sebagai mahasiswa postgraduate, saya mendapat akses khusus ke Arts Postgraduate Lab. Di setiap lab biasanya selain komputer dan printer ada pantry kecil dimana mahasiswa bisa makan, memanaskan makanan dengan microwave atau membuat kopi. Selain itu karena saya tinggal di akomodasi kampus, saya mendapat akses internet gratis dan free membership untuk berolahraga di UoA Sports and Recreation Centre. Kampus saya terkadang menyelenggarakan acara refreshing untuk mahasiswanya seperti mengunjungi tempat-tempat wisata di sekitar Auckland dengan harga terjangkau yang sudah mencakup transportasi, tiket masuk, dan makan siang. 

Karakter dosen dan tips kegiatan belajar mengajar

Mereka sangat detail saat mengajar. Poin-poin yang saya anggap tidak terlalu penting dibahas dalam diskusi di kelas dan ternyata sangat berguna karena saya terkadang mengabaikan detail-detail seperti itu. Tugas yang diberikan sebetulnya tidak sulit karena berupa essaykritis tapi standar penilaian mereka cukup tinggi. Apalagi untuk anak Arts atau Social Sciences lainnya, mendapat nilai A itu tidak mudah. Dekat dengan dosen sangat mudah karena mereka terbuka dengan kita. Tinggal email mereka jika ingin bertemu dan berdiskusi. Tetapi dekat dengan dosen tidak menjamin nilai bisa bagus. Kualitas tugas kita yang menentukan. Yang perlu dilakukan adalah mendengarkan apa yang dosen terangkan di kelas, selalu baca materi yang diminta, proaktif bertanya, dan mengerjakan tugas jauh-jauh hari supaya punya banyak waktu untuk mengoreksi, menambahkan, dan menajamkan analisis dalam essay kita. 

Kegiatan di luar perkuliahan

Semester lalu sampai sekarang saya bergabung di UoA Glee Club karena saya memang suka menyanyi dan seni pertunjukkan in general. Kegiatannya ada pertunjukkan tahunan setiap bulan Oktober, latihan regular, menyanyi di panti jompo untuk program sosial kami, dan memenuhi undangan tampil. Desember lalu, 8 orang dari kami diundang tampil menyanyi di Attitude Awards, penghargaan untuk kaum difabel berprestasi di Auckland, yang disiarkan di TV nasional. Saya juga membantu Himpunan Umat Muslim Indonesia Auckland saat Islam Open Day 2015. Semester ini, selain Glee Club, saya bekerja paruh waktu sebagai Student Ambassador di kampus dan bergabung di PPI Auckland dalam Divisi Seni dan Budaya. April nanti PPI dan komunitas IDNZ akan menyelenggarakan acara budaya tahunan bernama Auckland Indonesia Festival. Selebihnya, saya hanya volunteer di Pop Up Globe Theater dan menghadiri acaranetworking di fakultas.

Buku dan keperluan belajar

Di kampus ada UBS yang menyediakan semua buku teks dengan harga murah. Saya juga dapat meminjam dari perpus kampus atau mendapatkan e-book karena akses dari kampus ke berbagai jurnal cukup lengkap sehingga saya jarang membeli buku. 

Tempat tinggal di New Zealand

Saya tinggal di akomodasi kampus bernama Carlaw Park Student Village di Parnell, 15 menit jalan kaki dari kampus, bersama satu mahasiswa dari India dan satu dari Malaysia. Biayanya 228 NZD per minggu sudah all in, koneksi internet kampus, free membershipuntuk UoA Sports and Recreation Centre, dan fasilitas seperti music room, student room, common lounge, reception. Mahasiswa Indonesia biasanya sewa flat bersama di sekitar kampus.

Teman Dekat

Teman dekat asal NZ saya adalah anak-anak Glee Club. Mereka sangat supel dan welcome. Saya sempat jiper karena saya muslimah dan berjilbab sementara mereka bukan muslim (ada satu laki-laki muslim dari Mesir) tapi mereka sama sekali tidak mempertanyakan dan mendiskriminasi. Mungkin karena memang basis klub ini adalah musik sehingga sangat welcome terhadap siapapun.

Culture Shock

Sempat selama dua minggu bulan kedua di sini. Saya curhat ke teman Indonesia yang kuliah di Sydney yang mengalami hal yang sama. Saya sampai menangis sesenggukkan satu malam. Lalu saya baca artikel dan menonton video di YouTube tentang cara menghadapi culture shock. Ternyata yang saya hadapi bukan shock tapi lebih ke kangen keluarga di rumah. Cara mengatasinya adalah dengan menyibukkan diri dengan kuliah dan ikut kegiatan di luar kuliah. Dengan berkenalan dengan banyak orang dan mengunjungi tempat baru, lama-lama saya lupa dengan kangen sebelumnya.

Islam di New Zealand

Masjid tersedia di sini. Mushola di kampus UoA dan AUT juga ada tapi di tempat umum seperti mall dan restoran tidak ada muslim prayer space sehingga harus bisa menakar waktu dan sholat di rumah atau kosan teman.

Tempat favorit

Saya suka mengeksplor tempat-tempat yang belum saya kunjungi. Biasanya jauh-jauh hari saya memesan tiket bus promo yang hanya seharga $1 untuk pergi ke alam terbuka seperti Cathedral Cove dan Waiheke Island atau kota lain seperti Hamilton. Saya juga selalu menyempatkan menonton teater musical di sini yang jarang bisa saya tonton secara langsung di Indonesia seperti “The Phantom of the Opera”. Hal lain saat waktu luang adalah pergi ke Central City Library dan meminjam banyak buku. Saat libur panjang musim panas, perpus biasanya mengadakan Great Summer Read. Tahun ini saya ikut tantangan membacanya dan memenangkan tiket masuk untuk dua orang ke Auckland Zoo Open Lates.

Tentang Beasiswa LPDP

Ya, saya adalah penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Ini saya copy dari materi yang saya sampaikan ke komunitas pemburu beasiswa : Desember 2014, saya sudah lolos berkas beasiswa ini dan maju ke tahap wawancara. Namun saat itu saya tidak lolos. Januari 2015, beasiswa ini membuka seleksi lagi untuk gelombang pertama di tahun 2015. Saya ulangi lagi aplikasi saya mulai dari isi formulir, melampirkan ijazah (minimal IPK 3.0), melampirkan nilai IELTS (minimal overall 6.5 untuk studi di luar negeri), menulis 3 essay(sukses terbesar, kontribusi untuk Indonesia, dan rencana studi), surat rekomendasi (saya minta dosen sekaligus atasan saya karena kebetulan saya asisten dosen dan peneliti di FIB UI) dan surat izin belajar dari instansi (kalau sudah bekerja). Perbedaan aplikasi saat Desember 2014 dan Januari 2015 adalah sebelumnya saya belum mendapat Letter of Acceptance (baru turun H+1 wawancara LPDP) dan saya lampirkan di aplikasi 2015. Setelah lolos screening berkas, saya mendapat panggilan wawancara di bulan Februari 2015. Lokasinya di STAN, Bintaro untuk wilayah Jakarta. Di hari pertama, saya mengikuti Leaderless Group Discussion dimana saya dan kandidat lain dimasukkan dalam satu grup dan diminta membahas satu isu sosial selama 45 menit tanpa dikomandoi penilai. Artinya kami menentukan sendiri siapa yang jadi moderator dan peran-peran lainnya (diminta untuk menyampaikan pendapat dari perspektif pemerintah, NGO, akademisi, dll). Saat itu saya ditunjuk sekaligus menawarkan diri menjadi notulen dan topik diskusi adalah pesawat LCC. Hari berikutnya, saya menghadiri wawancara individu dengan 3 panelis. Pertanyaan yang diajukan seputar apa jurusan yang diambil, kampusnya dimana, mengapa ambil di sana (pertanyaan mengapa ini sering keluar jadi jawablah dengan jujur tapi diplomatis. Know the why sebelum mendaftar beasiswa), mengapa S2, mengapa di luar negeri, ingin riset tentang apa nanti, pengalaman organisasi hingga kondisi keluarga. Maret 2015 saya mendapat pengumuman kalau lolos beasiswa. Untuk beasiswa LPDP, tahapnya tidak sampai sini saja karena harus menghadiri PK (Persiapan Keberangkatan) selama seminggu untuk dibekali materi kepemimpinan, motivasi, dan teknis pencairan beasiswa. Oh ya, kalau mau tahu lebih lanjut soal beasiswa ini, teman-teman bisa baca-baca blog PK angkatan saya www.suryanara.org karena ada banyak sharing dari penerima LPDP angkatan saya. 

Lifestyle in NZ

Karena bukan negara mayoritas muslim, gaya hidup yang berbeda adalah setiap Jumat mahasiswa atau muda-mudi biasanya berpesta sampai mabuk. Mantan flatmate saya dulu seorang mahasiswa lelaki yang tukang pesta dan mabuk. Karena tidak nyaman, saya pindah ke flat lain. Di sini pernikahan sesama jenis dilegalkan tapi gerakan LGBT paling hanya muncul selama Pride Week menjelang Valentine’s Day. Gaya hidup yang baik dicontoh adalah keteraturan saat menyeberang dan mengantri dan penumpang selalu mengucapkan terima kasih setiap turun dari bus kota.

Motivasi buat teman-teman Indonesia

Riset sebelum berkuliah dimanapun itu supaya mendapat gambaran jelas tentang negara dan program studi yang akan diambil. Luruskan niat. Jangan patah semangat jika belum berhasil di salah satu proses aplikasi. Selandia Baru adalah negara yang aman dan makmur dan kalian tidak akan menyesal memilih negara ini sebagai tujuan studi. 

Reporter: Adelina Mayang.

Minggu, 17 Desember 2017

MUHAMMAD GILANG RAMADHAN: 3 Tips Rahasia Sukses Kuliah di Jepang Pakai LPDP!





Nama saya Muhammad Gilang Ramadhan atau biasa dipanggil Agil asal dari Bandung. Sekarang sedang menempuh studi Master di program Life Science Innovation,  University of Tsukuba, Jepang dengan dengan konsentrasi di bidang Food Innovation. Program ini merupakan salah satu international program di University of Tsukuba sehingga bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggis. Dalam studi Master ini saya menggunakan beasiswa LPDP.


Why Japan?


Pada saat kuliah S1 di Unpad saya beberapa kali diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan nasional maupun internasional. Dari kegiatan-kegiatan itulah saya sedikit banyak mendapat pengalaman sekaligus pemahaman bahwa apa yang saya ketahui tentang bidang saya pada saat itu masih sangat sedikit sedangkan tantangannya sangat banyak. Maka dari itulah saya berharap bahwa dengan berkuliah di luar negeri saya bisa mendapatkan banyak insight dengan sudut pandang yang berbeda-beda tentang bidang keilmuan saya mengingat kesempatan saya untuk berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara pun terbuka lebar. Hal kedua yang memotivasi saya untuk berkuliah di luar negeri adalah kesempatan saya untuk dapat mempelajari nilai-nilai kehidupan yang mungkin akan lebih banyak saya dapatkan ketika saya berada di luar zona nyaman saya (Indonesia).


Lantas kenapa memilih Jepang?


Seperti apa yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa saya ingin memperluas wawasan di bidang yang sedang saya geluti sekarang, Jepang merupakan negara yang memiliki komitmen yang kuat dalam dunia pendidikan dan penelitian selain itu program yang saat ini saya ambil menawarkan kurikulum yang sangat cocok dengan apa yang saya inginkan.


Tentang perkuliahan


Life Science Innovation Program merupakan Integrated Program yang menghubungkan 4 fokus bidang studi yang berbeda yaitu Disease Mechanism, Drug Discovery, Food Innovation and Environmental Management. Sesuai dengan namanya, program ini diharapkan dapat menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang dapat membantu menghasilkan solusi terhadap masalah-masalah yang muncul di masyarakat melalui pendekatan inovatif lintas disiplin ilmu. Oleh karena itu meskipun saya mengambil fokus bidang studi di Food Innovation, namun mata kuliah yang saya pelajari tidak terpaku di bidang food saja namun juga terkait dengan aplikasinya di bidang kesehatan dan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan.


Sistem perkuliahan disini sejujurnya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia baik itu suasana belajar di kelas maupun ujiannya. Mungkin yang membedakan dengan di Indonesia terletak di porsi risetnya. Di sini porsi riset lebih banyak dibandingkan dengan kuliahnya. Sebagai contoh dalam satu minggu saya bisa saja hanya memiliki 3 kelas namun bukan berarti saya bisa pulang setelah kelas berakhir. Saya masih harus menghabiskan waktu saya di student room/ laboratorium minimal 8 jam dalam sehari.


Lingkungan kampus


Karena University of Tsukuba merupakan universitas ke-2 yang memiliki jumlah mahasiswa asing terbanyak di Jepang maka lingkungan kampusnya pun lebih terasa “Internasional” meskipun tetap saja untuk berinteraksi dengan warga lokal kita sebisa mungkin dituntut untuk mengerti bahasa Jepang. Fasilitas yang tersedia dikampus sangat beragam mulai dari fasilitas akademik sampai fasilitas olahraga. Beberapa fasilitas kampus yang sering saya pakai adalah “dormitory community center” yang biasa kita (PPI) pakai untuk acara gathering, seminar room di perpustakaan untuk siaran radio PPI Jepang dan barbeque space untuk kegiatan barbeque party.


Pergaulan dan berbaur dengan teman


Berbaur dengan teman-teman dari negara lain bukan merupakan hal yang terlalu sulit bagi saya pribadi asalkan kita tahu bagaimana cara kita melakukan approaching terhadap mereka. Saya sekarang masuk di laboratorium yang 90% mahasiswanya merupakan mahasiswa asing dan sisanya adalah mahasiswa Jepang. Sejauh ini kita bisa bergaul dengan akrab namun tetap dengan batasan-batasan yang ada mengingat karakternya berbeda-beda, intinya terletak di bagaimana kita bisa memahami karakter mereka. Mungkin yang menjadi sedikit tantangan adalah bagaimana berhubungan dengan mahasiswa Jepang itu sendiri mengingat mereka cenderung lebih tertutup dibandingkan dengan mahasiswa dari negara lain.




PPI Ibaraki Jepang
Hobi dan keseruan lainnya


Bernyanyi merupakan salah satu hobi saya maka dari itu kenapa di Instagram saya banyak sekali cover lagu-lagu. Dengan kegiatan sesimpel itu setidaknya bisa menjadi stress release setelah berjibaku dengan tugas-tugas kuliah dan penelitian-penelitian yang ada.


Salah satu cover lagu mas Gilang: https://www.instagram.com/p/BZD2xQVlkNk/?taken-by=agylagyl


Sejauh ini saya mengekspresikan kegiatan bernyanyi saya di media sosial, kegiatan-kegiatan gathering PPI dan acara laboratorium. Agak sedikit berbeda di tahun ini, saya diberi kesempatan untuk tampil bersama teman saya di acara final Indonesian Talent Show di Kobe serta diajak berkolaborasi oleh salah satu mahasiswa Chiba untuk mengeluarkan single yang alhamdulillah sudah beredar di beberapa platform online seperti iTunes, Google Play, Amazon, dll.


Tentang piagam penghargaan


Piagam itu saya dapatkan ketika saya mengikuti acara Society Chemical Engineers Japan Meeting di Nagoya. Kegiatan tersebut merupakan konferensi tahunan yang diadakan oleh society tersebut. Saya mendapatkan penghargaan itu untuk kategori best poster presentation. Sejujurnya ini diluar ekspektasi saya pribadi mengingat ini adalah kali pertama saya menjadi peserta untuk kegiatan poster presentation dan harus bersanding dengan para peserta yang menurut saya sangat luar biasa dalam riset mereka. Terkait hal itu, yang saya lakukan pada saat itu hanya sebatas bagaimana saya bisa memaksimalkan usaha saya untuk mempresentasikan riset yang telah dikerjakan sehingga orang yang melihat presentasi saya mengerti akan riset yang saya lakukan.


Mengisi waktu luang


Kegiatan yang saya lakukan di hari libur bisa sangat beragam dimulai dari hanya berdiam diri seharian di kamar, kumpul-kumpul bareng anak-anak Indonesia lainnya, atau jalan-jalan. Tapi yang paling sering mungkin kumpul bareng anak-anak Indonesia lainnya sekedar masak-masak atau makan-makan. Lagi-lagi ini merupakan cara kami untuk sejenak melupakan penat yang ada. Kalau untuk jalan-jalan saya pernah mengunjungi beberapa tempat seperti Tokyo, Yokohama, Osaka, Kyoto, Nara, Kobe, Nagoya, Shirakawa-go, Nikko, Hakone dll. Namun yang paling sering tentunya Tokyo karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Tsukuba (45 menit menggunakan kereta).

....





3 Tips Penting!


Tipsnya sebenarnya sederhana, pertama cari tahu kenapa kamu harus melanjutkan studi di Jepang terkait apa yang ingin kamu peroleh dan seberapa besar dampak ke depan untuk karir kamu. Kedua persiapkan diri sesuai dengan apa yang universitas kamu inginkan. Ketiga terus berusaha ketika gagal karena saya sendiri pun butuh beberapa kali terjatuh hingga akhirnya saya ada disini sekarang. Terakhir jangan lupa untuk berdoa dan meminta doa dari kedua orang tua dan orang-orang terdekat.

Sabtu, 16 Desember 2017

Beasiswa S2 di Vienna University untuk Bidang Politik Ekonomi Global





Perkembangan dunia memang tidak bisa dibilang menentu dan pasti karena selalu ada hal-hal tidak terduga yang memberikan dapak luar biasa. Begitu pula dalam bidang Ekonomi Politik Global yang tentu erat kaitanya dengan perubahan dan perkembangan dunia. Nah, khusus bagi mereka yang ingin mendalami bidang tersebut ada fasilitas beasiswa untuk kuliah di Vienna University, Austria pada jenjang S2. Sebuah program beasiswa yang bernama Global Political Economy of Sustainable Development ini khusus menawarkan beasiswa pada bidang Ekonomi Politik Global bagi para lulusan S1 dari negara berkembang termasuk Indonesia. Program ini merupakan kerjasama antara United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) dan Austrian Foundation for Development Research (OFSE).





Mengenai beasiswa yang nantinya akan diberikan pada penerimanya bisa berupa pengurangan biaya kuliah sebesar 50% hingga bahkan 100%. Sementara itu untuk program studinya sendiri nanti akan bisa diambil purna waktu selama 3 tahun atau paruh waktu selama 5 tahun sesuai dengan keinginan penerima beasiswanya.

Selanjutnya berikut ini adalah hal-hal pokok yang menjadi persyaratan bagi para calon penerima beasiswa ketika ingin mendaftarkan diri dalam program beasiswa yang satu ini.
• Warganegara di negara yang termasuk dalam daftar penerima ODA DAC
• Memiliki catatan akademis yang baik dan memang mampu menunjukkan pengalaman kerja dalam bidang yang terkait dengan studi
• Mampu menunjukkan adanya kebutuhan finansial untuk mengikuti program ini misalnya kurangnya pendapatan dari pekerjaan ribadi atau kurangnya dukungan finansial dari keluarga
• Menunjukkan nilai tambah terkait dengan penyelesaian studi ini terkait dengan karir di masa yang akan datang

Selain beberapa syarat pokok seperti yang sudah disebutkan, program ini juga meminta beberapa dokumen untuk disiapkan dan dikumpulkan sebagai syarat kelengkapan administrasi dokumen. Berikut adalah dokumen-dokumen yang harus disiapkan.
• Curriculum Vitae yang dilengkapi dengan bukti kemampuan bahasa Inggris
• Salinan paspor
• Salinan Ijazah SMA/Sederajat dan juga Ijazah S1
• Letter of Application yang wajib berisi hal-hal berikut
• Penjelasan akan seberapa jauh pelamar memenuhi persyaratan yang dminta
• Penjelasan yang menyeluruh mengenai motivasi dalam mengambil program ini
• Penjelasan mengenai kemungkinan kontribusi dari program studi ini bagi karir di masa depan
• Penjelasan mengenai pemahaman pribadi dalam hal Sustainable Development, bagian spesifik dari bidang tersebut yang diminati, dan juga bagaimana nantinya studi yang diambil bisa membantu meningkatkan kompetensi pribadi dalam hal Sustainable Development

Proses pendaftaran untuk beasiswa inibisa dilakukan secara langsung hanya dengan mengirimkan semua persyaratan dokumen kepada pihak berikut ini
Mag. Daniela Baumgartne
Program Manager
Osterreichiscge Forshungsstiftung fur Internationale Entwicklung (OFSE)
Austrian Foundation for Development Research
Sensengasse 3
1090 Wien Austria

Selain itu bisa juga dengan mengirimkannya melalui email pada alamat info.sustainable-development@univie.ac.at

Mereka yang nantinya lolos seleksi berkas dan administrasi akan diminta untuk mengikuti wawancara melalui video chat sebelum pada akhirnya keputusan akhir akan diumumkan. Nantinya yang sudah diterima dalam program beasiswa ini wajib menyerahkan pendaftaran resminya untuk program masternya. Informasi lebih lengkap mengenai program ini bisa juga ditanyakan melalui email yang sudah disebutkan atau dengan mengunjungi laman resminya pada www.postgraduatcenter.at

ERDA RAHMILAILA DESFITRI: Yuk, Kuliah ke Jepang, Simak Pengalaman Gadis Minang Ini Berjuang di Jepang!







Nama saya Erda Rahmilaila Desfitri. Baik di rumah ataupun di kampus saya biasanya dipanggil Ella. Saya berasal dari Lurah Gadang, desa pinggiran di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Saya katakan pinggiran karena sampi saat ini desa saya belum terjamah oleh signal satelit/ jaringan telepon/ HP. Tapi Alhamdulillah listrik sudah mulai masuk ketika saya duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat ini saya kuliah di Jurusan Teknik Kimia bidang Environmental and Renewable Energy Systems Fakultas Teknik, Gifu University, Jepang, lewat program Basin water environmental Leaders (BWEL).

Mengenal Jepang dari sang Nenek …

Jepang, awal mula saya mendengar nama negara ini dari cerita nenek saya tentang penjajahan (maklum masa kecil saya tidak disuguhi dengan tontonan televisi dan gadget, hehe). Mungkin karena itu Jepang sangat familiar di telinga saya. Beranjak SD saya mulai mengenal Doraemon (mulai kelas 3 SD saya sudah bisa menonton televisi karena saya SD ikut kakak mama yang tinggal bukan di kampung halaman kami). Walaupun hanya lewat anime Doraemon saya kagum dengan lingkungan Jepang yang bersih dan tertata rapi. Dari pintu kemana saja dan baling-baling bambu (walau hanya dongeng) tapi disana menurut saya tersimpan kecanggihan teknologi dan cara berpikir yang kreatif.

Awalnya saya sempat berpikir untuk mengambil kuliah dengan Jurusan bahasa Jepang walaupun tidak pernah terpikir untuk kuliah sampai ke Jepang. Tapi karena latar pendidikan SMA saya yg berasal dari Sekolah Menengah Analis Kimia rasanya sayang kalau ilmu kimia saya, saya tinggalkan begitu saja. Dengan takdir Allah akhirnya saya di terima di jurusan Teknik Kimia, Universitas Bung Hatta.

Satu hal yang membuat saya tertarik berkuliah di Jepang adalah programnya. Saya kuliah di sini melalui program Basin Water Environmental Leaders (BWEL) yang misinya adalah mendidik mahasiswa untuk menjadi pemimpin bagi lingkungan. Dalam program ini selain mata kuliah jurusan kita, kita juga harus menyelesaikan mata kuliah yang disediakan program ini. Setelah tamat kita bakal dapat dua achievements dan dapat 2 ijazah. Jadi menurut saya ini kesempatan yang bagus. Selain itu program ini proses belajar mengajarnya menggunakan bahasa Inggris. Sedangkan kuliah S2 biasa menggunakan bahasa Jepang. Ini juga hal yg menarik bagi saya supaya bisa mengembangkan kemampuan berbahasa. Mengapa saya mengambil jurusan ini karena menurut saya ilmu di bidang ini nanti bakal bisa diaplikasikan di Indonesia.

Hal yang dilakukan sesampainya di Jepang

Setiba disini saya melapor ke siyakusho untuk mendapatkan catatan sipil dan kartu penduduk (resident card). Kemudian mengurus rekening bank dan stempel nama (disini jarang menggunakan tanda tangan). Untuk tempat tinggal saya tinggal di asrama kampus yang sebelum berangkat ke Jepang sudah diuruskan oleh staf BWEL dan supervisor saya. Biayanya sekitar 2 jutaan. Sewa asrama akan berbeda sesuai dengan fasilitas yang diberikan. Kalau asrama saya dapurnya satu untuk 8 orang. Ada lagi jenis asrama buat yang sudah menikah dan bekeluarga, harganya akan lebih mahal.


Adaptasi hari pertama

Hari-hari pertama di Jepang yang membuat saya kesulitan adalah dalam hal komunikasi karena saya baru mulai belajar bahasa Jepang setiba di sini. Saya juga kesulitan untuk menemukan makanan halal. Tapi Alhamdulillah senior-senior di sini sangat membantu. Juga teman-teman Jepang di laboratorium saya sangat baik.

Living cost in Japan

Untuk biaya karena saya hanya dapat biaya hidup satu tahun di tahun kedua ini saya melakukan baito (part time job). Kalau untuk makan siang di kantin kampus berkisar ¥500 sampai ¥1000. Tapi saya lebih sering masak sendiri untuk menjaga kehalalannya dan mendapatkan rasa yang lebih Indonesia.

Fasilitas untuk pelajar internasional

Di kampus ada medical center. Oh iya, saya lupa cerita kalau sesampai di Jepang kita juga harus terdaftar sebagai pengguna asuransi. Kalau untuk berobat di medical center kampus gratis. Kalau berobat di luar akan ada pemotongan harga sebanyak 30% dari harga yang seharusnya dbayarkan. Setiap setahun sekali akan dilakukan medical check up untuk seluruh mahasiswa.

Koneksi internet di Jepang

Di kampus difasilitasi internet gratis. Kalau di asrama disediakan juga wifi yang harus dibayar tiap bulan. Kalau untuk HP data kita akan disimpan di awal kita membeli handphone dan pembayaran dilakukan tiap bulan berdasarkan pemakaian. Jadi kita tidak bisa ganti-ganti nomor secara sembarangan.

Empat musim di Jepang, bagaimana rasanya?

Sangat terkesan sekali karena setiap tiga bulan sekali kita akan melihat pemandangan yang berbeda. Saya paling suka musim semi karena tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Bunga-bunga bermerkaran  di sana-sini. Untuk musim yang kurang saya sukai adalah musim salju karena sangat dingin apalagi kalau salju sudah mulai mencair jalanan akan mulai licin dan akan malas sekali untuk melakukan kegiatan di luar.

Future plan for Indonesia!

Sekarang saya semester terakhir program S2 insyaAllah maret akan selesai dan saya akan melanjutkan ke program S3. InsyaAllah sesampai di Indonesia saya akan mengaplikasikan ilmu yang saya peroleh disini. Saya ingin menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi di Indonesia. Nantinya saya ingin juga mengirim mahasiswa-mahasiswa saya untuk melanjutkan kuliahnya d luar negeri.


Tips!

Untuk teman-teman yang mau kuliah di Jepang walaupun nanti teman-teman ikut program international akan lebih baik pelajari dasar-dasar bahasa jepang sebelum berangkat ke sini. Tetap semangat dan terus berjuang!

Jumat, 24 November 2017

Pengalaman Ahmad Anhar Syahputra Exchange: Secercah Senyum di Langit Paman Sam, USA

Ahmad Anhar SyahputraProgram Study of the U.S Institue on Global Environment Issue 2013
United State of America

Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Manusia bisa melakukan apapun dengan usaha dan kerja keras. Menggantung cita-cita dan harapan dan kelak disuatu masa nanti semua keinginan tergapai. Begitu juga dengan aku, siapa yang menyangka kerja keras selama ini membuahkan hasil yang indah pada waktunya. Semua yang aku tulis merupakan warna kehidupanku yang aku torehkan di kanvas kosong. Setiap warna mewakili betapa indahnya disaat aku merasakan jatuh dan bangun untuk menggapai semua keinginan yang aku rangkai setiap malam ketika hendak tidur. Semua mimpi yang aku ukir bukanlah perkara mudah. Jatuh dan bangun untuk menyusun keindahan hidup telah menjadi asam dan garam kehidupan.



    Bagiku, Sekali layar berkembang pantang surut mundur ke belakang. Aku yakin jika semua dilakukan dengan sabar dan penuh perasaan Insya Allah, Tuhan pasti membentang hamparan berkah untuk menapaki semua kesuksesan.



Panggil saya ini Anhar, pemuda melayu dari Provinsi Riau. Berasal dari salah satu Kabupaten yang jauh jaraknya dari Ibukota Provinsi. Saya dibesarkan dari keluarga yang jauh dari kata sederhana, Abah saya seorang buruh montir dan untuk mencukupi kebutuhan kami, emak juga bekerja berjualan dikantin Sekolah Dasar. Memang bisa ditebak, kebanyakan anak-anak exchange adalah keluarga kurang mampu. Entahlah, mengapa bisa begitu! mungkin orang miskin seperti saya mempunyai segudang mimpi dengan akses materil terbatas, sehingga berusaha melawan batas-batas tersebut.

Saya kuliah di Universitas Riau lulus dari SNMPTN dengan SPP kurang dari tujuh ratus ribu. Dulunya, emak dan abah tidak memberi ijin saya melanjutkan ke pendidikan tinggi, karena adik-adik saya masih banyak yang mau dibiayai. Emak bilang sabar dulu, lebih baik kerja dan bisa bantu adik-adik. Saya memang orang yang keras kepala, tidak mau mendengar nasehat orang tua karena saya yakin miskin bukan berarti bodoh, miskin bukan berarti tidak terdidik dan miskin bukan berarti rendahan. Dengan inisiatif yang kuat, saya merantau ke Ibukota, Pekanbaru. Bekerja sebagai salesman dari rumah ke rumah membuat saya tabah menelan indahnya kehidupan, berjuang untuk mendapatkan secuil berkah Allah untuk menyambung kehidupan hari esok.

Setahun lebih saya berprofesi menjadi salesman, diawal tahun 2009 saya menekadkan diri untuk meneruskan jenjang pendidikan di perguruan tinggi negeri. Awalnya, saya tidak terima kodrat karena lulus program pilihan yaitu Pertanian dan akhirnya saya mengerti dikemudian hari kenapa Allah memberikan saya ilmu pertanian. Allah itu Tuhan yang keren untuk semua perencanaan.

Saat itu pukul sepuluh pagi, jadwal kelasku untuk persiapan TOEFL kampus di Balai Bahasa, namun pagi ini kami tidak belajar seperti hari sebelumnya. Tim lembaga TOEFL membawa acara spesial buat kami, mendatangkan mahasiswa yang telah mengukir prestasi di kancah Internasional. Mereka bercerita betapa indahnya belajar di luar negeri. Dari situ aku mulai berfikir untuk menjadi seperti mereka, bisa keluar negeri dibiaya pemerintah. Apakah mungkin? Aku sempat bercerita kepada emak tentang mimpiku terbang keluar negeri. “Bukannya emak melarang engkau nak ikut kegiatan seperti itu, tapi pikirkanlah abahmu juga susah cari duit, mau makan saja terkadang berhutang kesana-kemari” Emak tidak mendukung sama sekali, karena emak berfikir hanya orang yang ber-uang saja yang bisa menikmati perjalanan jauh.

Perkataan emak membuat aku down, emak tidak berharap terlalu besar dari kehidupan ini yang bisa aku pahami dari pemikiran emak adalah kerja, hidup sederhana dan bisa membantu adik-adikku melanjutkan pendidikan. Tetapi, semua itu berubah drastis ketika saya berhak menjelajahi tiga Negara bagian di Negara adikuasa, Paman Sam.

“Ih, ini uda jam berapaan ya?” gelisahku diantara hiruk pikuk ramainya manusia yang sedang mengantri di sebuah bangunan megah yang kebanyakan diisi oleh para turis asing.
“Sabar Anhar, dua jam lagi” Jawab Aken, mengenakan jilbab merah sambil meriksa beberapa dokumen.

Aku tersenyum, kegelisahan yang hampir tengah malam membuatku semakin risau tak karuan. Kulihat Andrizal dan Ridha asik mengobrol dengan dua orang wanita dari Belanda. Mereka sedang mengasah Bahasa Inggris sebelum sampai di Negara idaman. Yang aku dengar, dua turis ini baru saja menjelajahi pulau Sulawesi, mereka sangat antusias sekali menceritakan pengalaman menarik selama di Ambon. Ya, Ambon Manise setiap orang yang berkunjung kesana pasti mendapatkan kesan yang tidak terlupakan. Andirzal, Aken dan Ridha adalah teman baruku yang baru kenal beberapa minggu lalu melalui email. Masih ada tiga orang teman baruku dari Surabaya dan dua orang dari Makassar. Mereka semua adalah teman-teman yang sangat luar biasa.



Ruangan yang besar seperti lapangan sepak bola ini makin ramai saja, aku termenung sambil memegang roti Bobo yang aku beli sebelum berangkat kemari. Dalam lamunan itu, aku terjun bebas mengulang kembali semua memori ingatanku. Hp berdering untuk sekian kalinya, meraung memanggil sang pemilik untuk dijawab. Terakhir kali terdengar suara SMS masuk. Saya mengabaikannya untuk jangka waktu yang lama, karena disaat itu juga sedang diadakan musyawarah dengan petinggi desa untuk mempresentasikan program kami sebagai anak KKN. Dua jam lebih acara tersebut selesai, dan aku membuka hape yang sudah terisi penuh batrainya.

"Assalamualaikum, ini Shita dari U.S Embassy, kapanya bisa saya hubungi. Maaf menganggu."

“Hah?” keningku mengerut, saya berfikir ada urusan apa pihak kedutaan Amerika. Sepintas itu juga saya berfikir pernah mengirimkan aplikasi program SUSI 2013. Saya tersenyum, mungkin mereka tertawa membaca aplikasi saya, soalnya aplikasi saya pernah dipulangkan lagi oleh pihak panitia karena lain ditanya lain pula dijawab, bahkan mereka menyarankan memakai google translate kalau tidak mengerti maksud dari pertayaan yang berada di form registrasi.

“Akh,… aku malu” gumamku dalam hati. Sudahlah, mungkin mereka mau menasehati aku agar mengikuti program yang sama ditahun depan. Aku mengabaikan pesan tersebut, bagiku malu sekali jika ditelpon dan diberi nasehat lagi. Aku sudah berlapang dada, toh tujuan aku mengikuti program SUSI adalah ajang coba-coba dan hanya mengetahui tingkat Bahasa Inggrisku sejauh mana dalam penulisan essay lepas. Beberapa menit kemudian, hape aku berdering lagi dari nomor yang sama. Aku menarik nafas panjang-panjang, dan..

“Hallo, Assalamualaikum” nada datarku
“Walaikum salam, benar ini Ahmad?” Seorang wanita bersuara lembut nyaris hilang suaranya jika diterpa angin.
“Benar, nama saya Ahmad Anhar Syahputra” jawabku sendu.
“Ahmad,..”
“Hm.. Anhar mbak”
“Oh iya, Anhar.. saya Shita bekerja di kedutaan besar Amerika di Jakarta saya mau mengucapkan selamat bahwa kamu lulus program Study of the U.S Institute di program Global Environment Issues”
“APA?????”

Jantungku berdetang lambat, terasa waktu terputus dari siklusnya. Nafasku menghirup udara tidak beraturan, pupil mata mengecil, beberapa detik kemudian aliran darah terasa mengalir menderu di otak belakang, bahkan jantungku tadi mulai menunjukan reaksi tidak normal untuk memompa darah. Aku terdiam, seperti paku yang siap ditancapkan, badanku menggigil semuanya terasa aneh sekali, ini diluar ekspetasiku.

“Hallooo… Hallooooo” Suara mbak Shita mengaum merdu.

Aku menunjukan raut wajah mendung, tak sadar air mata keluar begitu saja membasahi seluruh pipiku. Suara isak tangisku yang tidak sadar seperti anak SD kehilangan mainannya. Aku tersandar di dinding kamar, badanku mulai lemas, kaki ini tidak bisa menompang berat badan lagi. Mbak Shita mulai mengerti suasana hatiku, dia diam sejenak menikmati tangisanku dibalik jaringan yang jaraknya ratusan kilometer.

“Mbaak, aaaa….aapa benar?” Kalimatku menahan tangisan.

“Iya, Anhar. Selamat ya. Kamu salah satu delegasi Indonesia.”

“Bukan bohong, kan? Atau penipuan?” Pasrahku.

“Bukan, kita lagi mengurus semua dokumen kamu dan pastikan Passport kamu sudah ada. Lusa saya kirimkan Invitation letter-nya dari Amerika.” Mbak Shita menjelaskannya dengan terperinci.

“Mbak, terima kasih ya, saya kira saya tidak lulus, karena aplikasi saya pernah dipulangkan lagi dan disuruh diperbaiki” tangisanku semakin kencang.

“Ini Rezeky kamu, sudah jangan menangis lagi. Mungkin kabar ini bisa kamu sampaikan kepada orang tua kamu.”

“Iya, mbak. Terima kasih infonya. Saya masih tidak percaya semua ini, seperti mimpi mau berkunjung di Amerika” aku tersenyum.

“Sekali lagi selamat, ya. Informasi akan diberi melalui email, jadi tetap stand by terus email-nya. Permisi dulu, selamat siang Anhar. Wassalamualaikum.”

“Wa..walaikum salam” aku termenung. Tanganku bergetar menekan tombol-tombol angka untuk menelpon abah di rumah.

Lamunan itu terpecah disaat Andrizal memukul bahuku untuk mengantri check in di counter Chatay Airlines. Semuanya masih berkesan sekali kenangan indah tersebut, mendapatkan kesempatan yang luar biasa, karena ratusan aplikasi yang masuk hanya tujuh orang saja yang berkesempatan untuk mengikuti program ini, setidaknya begitulah yang dikatan Bang Heru, staff kedutaan Amerika yang memberikan kami arahan sebelum berangkat ke Amerika.



Study of the U.S Institue for Global Environment Issue Program. Merupakan program yang didanai penuh oleh pemerintah Amerika Serikat tujuannya adalah untuk belajar tentang Negara Amerika dalam manajemen isu lingkungan terhadap semua aspek kehidupan, program ini di koordinasi oleh East West Center di tiga Negara bagian Amerika yaitu, Hawaii, Colorado dan Washington DC selama 5 minggu. Ini adalah pengalaman pertama kali menaiki pesawat sampai 2 kali transit dari Jakarta – Hongkong – Tokyo dan berlabuh di Hawaii.

Hawaii? “Akh,..” aku berdecit sedikit tatkala aku menaiki mini bus menuju apartemen di kompleks universitas Hawaii. siapa yang tidak mengenal pulau ini yang memberikan sejuta eksotisnya untuk para pelancong dari berbagai Negara. Negeri yang memiliki sudut ruang pantai yang indah dimana-mana, memang sudah pantas bahwa Hawaii dijuluki The Rainbow of Island. Aku terkesima untuk sekian kalinya, berdiri di depan pantai Waikiki Beach sambil mendengarkan lagi it’s beautiful day by Michael Buble, lagunya berulang-ulang kali kuputar melalui Walkman. Deburan air laut membujuk kakiku untuk bermesraan dengannya. Kupejamkan mata ini, menikmati indahnya kuasa Tuhan yang telah membentuk bumi-Nya dengan sejuta keindahan, aku sangat bahagia sekali bahkan ungkapan seribu kata tidak bisa aku ucapkan untuk mengisi ruang hatiku.

“EMAAAAAAAAAK, ABANG DI HAWAAAAII…….” Teriakku sekuat-kuatnya, melampiaskan emosional kegembiraan, lagi-lagi aku tidak sadar air mataku menyatu dengan air laut. Siapa yang menyangka aku berdiri disini, menikmati matahari terbenam. Aku rindu emak, lagi apa emak disana? Pasti satu kampung sudah heboh bahwa anak tukang jualan nasi goreng sampai ke Amerika, pasti abah selalu bercerita tentang aku ketika ada pelanggan yang memperbaiki sepeda motor di bengkel depan rumah. Aku tersenyum, mengusap air mata kegembiraan.

Dua minggu lebih di Hawaii bukanlah waktu yang mudah untuk dijalani, culture shock? Itu sudah pasti, aku harus terbiasa makanan pengganti nasi, seperti roti salad dan soup yang dicampuri dengan berbagai jenis rempah-rempah yang tidak aku kenal. Bukan hanya itu, kedisplinan orang Amerika mengajariku banyak hal untuk bertindak seperti dilarang menyebrang sembarangan walaupun tidak diawasi oeh kamera cctv, mengantri panjang tanpa harus mengeluh untuk mengambil makanan di kantin, tidak duduk di tempat duduk priority seat di bus umum dan masuk kuliah tanpa terlambat. Hal-hal yang kecil yang biasa aku langgar saat di Indonesia.

Kami dari Delegasi beberapa Negara ASEAN dan Kepulauan Pasifik belajar penuh di main office East Wes Center (EWC) organisasi yang sudah professional untuk membentuk karakter manusia dengan program-program pertukaran pelajar, magang dan lain sebagainya. Belajar tentang regulasi pemerintah Amerika untuk membangun negaranya dengan konsep lingkungan, kami diberi beberapa kelompok yang sewaktu-waktu kelompok tersebut bisa berubah sesuai dengan tema studi kasus yang kami pelajari. Banyak hal yang bisa aku pelajari dari sana, semuanya membuka wawasan dan ilmu menejemen lingkungan yang bisa aku terapkan di lingkungan kecilku. Begitulah seterusnya, belajar bisa sampai jam Sembilan malam bahkan tidak tidur untuk mendapatkan hasil yang baik untuk dipesentasikan pada dosen-dosen yang ahli dibidangnya.



Walaupun proses belajar mengajar sangat padat, panitia juga memberikan kami edutrip dibeberapa tempat yang sangat bagus sekali untuk di kunjungi seperti Museum Pearl Harbour yang menyimpan sejuta sejarah, Hanauma Bay dengan koral lautnya begitu indah, menikmati matahari tenggelam di Waikiki beach. Pengalaman yang sangat membuat saya berkesan adalah mengunjungi wisata Kualoa Ranch, aku terkejut ternyata disini bukan menjadi wisata alam saja, tetapi menjadi hotspot pembuatan film yang tersohor seperti Jurassic Park Film Lost dan Pearl Harbour yang sering kita tonton di tv. Luar biasa sekali tempatnya, sangat indah. Bentangan savana yang terhampar seperti taman firdaus dikelilingi gunung-gunung yang dibaluti rumput dan lumut basah. Tidak ada pohon sawit seperti tempat tinggal saya. Subhanallah, beginilah Allah menciptakan bumiNya dan beginilah penduduk Amerika merawat kekayaan alamnya.

Program Amerika tidak bakalan lengkap jika tidak berbaur dengan host Family atau keluarga angkat. Aku kaget ketika aku mendapatkan keluarga dari keturunan Yahudi.

“Apa? Yahudi?” benakku berputar terus tidak ingin berbaur dengan mereka. Jelaslah, ini jadi tabuh bagiku. Coordinator host family bercerita banyak tentang keluarga baruku bahwa mereka adalah pecinta Indonesia, mereka telah mengelilingi Indonesia bahkan mereka sudah sampai di kota Pekanbaru. Sumringahku menepis perbedaan keyakinan itu, aku ingin mengetahui apa benar mereka memang cinta Indonesia.

Tepat sekali, nuansa rumah dan semua dekorasi rumah ala Indonesia. Aku merinding sekali ketika mereka bercerita mengirim property rumah seperti angklung, meja ukir dan pintu rumah bermotif Bali dibawa dari Indonesia. Mereka tidak henti-hentinya bercerita tentang Indonesia dan membuka album kenangan ketika mereka masih muda, dibagian foto-foto tersebut mereka menikmati perjalanan di Kalimantan, Bali, Jakarta dan beberapa daerah Sulawesi yang tidak pernah aku kenal sama sekali. Aku juga diajak untuk melihat perayaan sabat day umat Yahudi, orangtua angkatku bangga sekali memperkenalkan aku dengan komunitas Yahudi Hawaii, mereka sangat ramah sekali dengan aku. Seorang Rabi mendatangi aku dan memberikan aku segelas air anggur merah.

“Sorry, I am Moeslim” tolakku halus ketika Rabi menuangkan air anggur yang aku kira adalah sejenis bir.

“Don’t worry, this is alcohol free. We are not drink Alcohol, it is Halal and we don’t eat haram too” senyum Rabi tersebut.

Mereka adalah Yahudi sejati yang tidak memakan makanan haram seperti umat muslim. Hampir semua makanan dimeja adalah buah dan sayur dan hanya beberapa potong daging ayam. Aku banyak belajar dari mereka, perbedaan bukan harus dijauhi tetapi perbedaan itu yang memberikan banyak pelajaran hidup bahwa di dunia ini beragam etnis yang masih peduli dengan etnis lainnya.
Rasanya ingin menangis meninggalkan Hawaii, aku tidak tahu kapan datang kemari. Sejuta pengalaman yang tidak bisa aku lupakan begitu saja di Negara bagian ini.

Inilah saatnya kami terbang ke Negara bagian berikutnya Colorado, Negara yang penuh ruang terbuka dan dikelilingi dengan pegunungan Rocky Mountain. Tinggal di kompleks Universitas Colorado membuat aku seperti mahasiswa seutuhnya, bangunannya begitu indah dan classic kemana-mana hanya diakses berjalan kaki dan memakai bersepeda jarang yang memakai sepeda motor atau mobil. Di sini, pejalan kaki lebih dihormati, pemerintah Colorado membuat jalan khusus bagi pedestrian yang tidak boleh dilintasi oleh sepeda. Colorado mempunyai ambisius menjadi Negara bagian yang sukses dengan konsep go green, ini terbukti dimana mahasiswanya juga bekerja separuh waktu untuk mendaur ulang sampah yang akan dikirim ke Negara-Negara yang telah direkomendasi untuk mengolah sampah. Sekali lagi sampah menjadi pendapatan bagi mereka, hal-hal ini yang kami pelajari di Colorado tentang menejemen sampah, bangunan ramah lingkungan, solar panel dan pertanian organik yang kami jumpai di farmer market.

Kesan selanjutnya yang aku dapatkan adalah mengunjungi satu dari beberapa bagian gunung Rocky Mountain, memang disana lagi musim panas tetapi tidak di top mountainnya, dengan suhu 5 derajat celcius saya cukup puas memegang salju dan bermain ria dengan teman-teman lainnya. Indah sekali pemandangan dari Top Mountain, melihat lekukan pegunungan lainnya yang dibaluti oleh salju tebal dan hamparan hutan pinus. Selama ini, saya hanya menyaksikan Rocky Mountain melalui channel National geography dan sekarang ini nyata di hadapan saya.

Ku akui pindah dari satu kota besar ke kota besar lainnya memanglah terasa letih walaupun transportasi memakai pesawat terbang. Lelahnya itu adalah bongkar dan muat barang-barang harian di koper, semakin banyak tempat yang dikunjungi semakin banyak buku yang diberikan dan tidak mau buku-buku tersebut ditinggalkan. Semuanya adalah ilmu dan sangat berhagra sekali nilainya. Tak jarang koper aku sudah bengkak dan overload bagasi.

Kota terakhir kami kunjungi adalah Washington DC, kota yang sangat glamour dan tertata rapi bangunanya. Para planologi telah menata Washington menjadi ibukota tanpa bosan mengelilinginya. Di Washington, jadwal kami tidaklah sepadat sebelumnya. Disini kami lebih banyak waktu luang untuk berjalan-jalan sebelum kegiatan penutup, aku tidak mau meninggalkan kesempata ini, rasa capek, lelah dan lesu kuabaikan begitu saja. Aku harus lebih semangat untuk mengelilingi kota besar ini. Di Washington DC, untuk berkeliling sangatlah mudah karena disana ada public bicycle yang bisa di rental seharian, aku memulai langkah semangat.


Tujuan pertamaku adalah kediaman Obama yang jaraknya tidak jauh dari penginapan kami. Masya Allah, melihat White House secara dekat membuat mata ini tidak terbendung untuk menitikan air mata untuk sekian dan sekian kalinya. Memandang white house yang tidak jemu-jemu selama dua jam lebih berdiri seperti patung, setiap momen tidak ingin saya lewatkan. Beberapa orang heran melihataku yang tahan berdiri selama dua jam. Biarlah, masa bodoh, kalau polisi menegurku atau mencurigaiku tinggal aku keluarkan selembar surat undangan resmi dari Amerika, saya ini adalah delegasi yang artinya setengah diplomatik. Syukurnya hal-hal seperti itu tidak terjadi selama di sana. Dua jam menikmati white house belum berarti apa-apa bagiku, ingin rasanya lebih lama lagi memeluk pagar white hosue yang menjulang tinggi dan bercerita perjalanan hidupku untuk melihatnya.

Lima minggu dan tiga Negara bagian dikunjungi adalah pengalaman saya untuk saya ceritakan kepada pemuda Indonesia. Saya tidak membanggakan Negara lain dan mengikis rasa nasionalis saya. Bahkan, selama disana saya belajar banyak bagaimana mencintai dan menghargai Bangsa saya. Program diberikan bukan untuk membanggakan Negara pemberi program, tetapi mengajarkan kepada penerima program beginilah cara mereka untuk menghargai Negara dan bangsa itu sendiri. Bisa ditiru dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah gunanya program dan program bukanlah suatu trend yang hanya berjalan di tempat-tempat yang indah. Tujuan program adalah membentuk karakterik bangsa dari pengalaman Negara lain untuk menjadi seorang yang kritis untuk menyikapi masalah-masalah internal dari Negara sendiri, tidak apatis dan tidak arogansi.

Jika bersungguh-sungguh dia yang akan dapat. Janganlah putus asa untuk meraih kesuksesan, pahit dan asamnya kehidupan dalam menjalani sebuah proses adalah kekuatan kita untuk tetap tegar. Mengambil semua pelajaran dari kegagalan dan menjadikan semua keberhasilan sebagai intropeksi diri agar kita tidak puas dengan satu kesuksesan. Allah adalah Tuhan yang mengatur semua perencanaan dan manusia harus berusaha untuk meraih perencanaan tersebut. Saya teringat dengan orang tua angkat saya yang mengatakan

    “Tulislah semua keinginan dan sinergikan dengan sang Malaikatmu yaitu Ibu. Tarik hubungan itu antara vertikal dan harizontal, Biarkan jasmanimu berusaha, Biarkan rohanimu beristiqomah dan biarkan sang Khalik yang Bekerja."









Kamis, 23 November 2017

5 Program Exchange Ke Luar Negeri Yang Wajib Kamu Coba! Perisapkan Sekarang Juga!


 Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk merasakan sensasi menempuh studi di luar negeri adalah dengan mengikuti program pertukaran pelajar atau yang sering disebut dengan exchange program. Program ini tersedia dalam berbagai pilihan dan juga bisa diambil oleh pelajar SMA juga mahasiswa semester awal.


Kaitannya dengan program ini, banyak yang akan mengatakan bahwa pada akhirnya hanya akan menganggu konsentrasi dalam menempuh studi yang dijalani. Akan tetapi, justru dengan mengikuti program pertukaran pelajar ini, justru bisa mendukung studi yang sedang ditempuh. Untuk mahasiswa, jumlah sks yang diambil ketika mengikuti program pertukaran pelajar akan bisa diakumulasikan dengan sks yang ditempuh di dalam negeri, jadi tetap akan memberikan efek positif dalam hal studi yang sedang ditempuh.

Selain itu untuk pelajar yang masih SMA, bukan tidak mungkin denna mengikuti progra seperti ini nantinya akan bisa membuka jalan untuk melanjutkan studi di negara tempat mengikuti program ini. Kesempatan untuk bisa merasakan perbedaan proses belajar di luar negeri juga merupakan satu hal yang sangat bisa didapatkan ketika mengikuti program seperti ini.

Pada akhrinya jika memang ada kesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar atau exchange, sebaiknya diambil saja. Tidak perlu diragukan lagi keuntungan-keuntungan yang akan bisa didapat dengan mengikuti program ini. Berikut ini adalah daftar program-program exchange yang bisa diambil oleh mahasiswa maupun pelajar dari Indonesa.


1. International Student Festival in Trondheim (ISFIT) – Norwegia


Meskipun bukan merupakan program untuk bisa mengikuti kegiatan sekolah atau kuliah di Norwegia, namun sejumlah totl 18 seminar yang ditawarkan selama program ini tentu sangat sayang untuk dilewatkan. Program ini merupakan sebuah festival pelajar internasional yang paling besar di dunia. Sejumlah total 400 pelajar dari seluruh dunia setiap 2 tahun sekali akan mengikuti program ini. Berbagai topik yang lingkupnya internasional seperti politi, sosial, dan beragai hal lainnya dijadikan sebagai tea dalam setiap penyelenggaraan program ini. Dalam setiap penyelenggaraanya di Trondheim, Norwegia, selalu ada berbagai presentasi budaya yang tentu akan mengenalkan para pelajar internasional kepada berbagai budaya di dunia. Nah jika kamu ingin sekali merasakan tinggal di Norwegia serta juga mendapatkan berbagai ilmu dalam berbagai hal dan mendapatkan teman-teman dari seluruh dunia, kamu bisa mendaftarkan diri untuk mengikuti program ISFIT ini.

Kalau kamu perlu informasi lebih lengkap tentang program ini silakan klik link http://www.isfit.org/. Semoga sukses dan bisa exchange ke Norwegia ya!


2. Encompass Trust – Inggris

Tidak bisa dipungkiri bahwa Inggris merupakan salah satu negara populer dalah hal menempuh studi di luar negeri. Oleh karena itu program ini menjadi pilihan tepat buat kamu yang ingin mencoba terlebih dahulu untuk tinggal dan belajar di Inggris. Program ini sudah dilangsungkan sejak tahun 2003 dan sudah terbukti berhasil untuk mempertemukan berbagai latar belakang budaya, agama, dan masyarakat dari berbagai mahasiswa yang ikut dalam program ini. Pada intinya adalah program ini dirancang untuk menghilangkan dan melawan stereotype negatf yang mungkin sudah menjalar pada diri para remaja. Negara-negara yangmenjadi bagian dari program ini meliputi Palestina, Indonesia, Israel, Inggris, dan Amerika. Presentasi budaya, diskusi kelompok, serta berbagai aktifias lain yang sangat menyenangkan akan dilakukan semua peserta program ini dalam waktu 10 hari. Untuk acaranya sendiri biasa diadakan di kawasan London, Inggris serta juga Wales atau Skotlandia.

Informasi lebih lengkap bisa kamu dapatkan di http://www.encompasstrust.org/. Semoga impianmu untuk exchange ke Inggris bisa terwujud. Amin.


3. Youth for Understanding (YFU) – Jerman


Di Jerman ada juga satu program yang ditawarkan bernama Youth for Understanding (YFU) yang pada dasarnya merupakan sebuah organisasi nirlaba skala internasional dengan program pendidikan di 64 negara di dunia. Sejak tahun 1951, YFU sudah menyelenggarakan dan membuktikan kesuksesannya dalam mengelola program pertukaran pelajar diseluruh dunia. Saat ini YFU bisadibilang menjadi organisasi terbesar dan tertua dalam hal pertukaran pelajar di dunia. Budaya merupakan fokus utama dari program ini karena memang budaya diyakini sebagai hal yang paling penting kaitannya dengan peningkatan keterampilan mahasiswa di lingkup internasional. Lebih dari 50 negara sudah dicakup oleh YFU dalam program yang berlangsung selama 1 tahun. Untuk YFU yang berada di Indonesia memungkinkan mahasiswa dari Indonesia untukisa mengikuti program pertukaran pelajar di negara-negara antara lain Jepang, China, Korea, Australia, Turki, Serbia, Amerika, Mexico, Jerman, Belanda, Switzerland, Perancis, Austria, Belgia, Estonia, dan Lithuania. Dengan semakin banyaknya pilihan dari negara untuk pertukaran pelajar, semakin menarik pula program ini untuk kamu ambil.

Kalau kamu join program exchange ini dapatkan informasi selengkapnya di http://www.yfu.or.id/, atau kamu bisa kunjungi https://www.yfu.org/. Semoga sukses!


4. Indonesia – Korea Youth Exchange Program (IKYEP) – Korea Selatan

Sudah tentu banyak remaja dalam hal ini pelajar SMA dan mahasiswa semester awal yang suka sekali dengan berbagai lagu dan drama seri Korea. Nah, jika kamu salah satunya, mungkin program IKYEP ini sangat pas buat kamu. Kementrian Pemuda dan Olahraga RI dan Kementrian Kesetaraan Gender dan Keluarga dari Korea Selatan menyelenggarakan program resmi ini mulai dari tahun 2008 dengan MOU ditandatangani pada tahun 2009. Program IKYEP ini biasanya diadakan selama 20 hari yaitu 10 hari di Indonesia dan 10 hari di Korea Selatan yang dilangsungkan pada bulan November. Berbagai kegiatan dalam program ini meliputi kunjungan kehormatan ke pusat-pusat kegiatan pemuda, pengenalan budaya, merasakan tinggal dengan keluarga, dan banyak lagi yang lain. Tentunya sangat menarik untuk bisa mengikuti program pertukaran pelajar ini.

Mau banget bisa join program ini? Silakan cari informasi yang lebih lengkap di http://ikyep.org/.


5. Ship for Southeast Asian Youth Programme (SSEAYP) – ASEAN

Nah program yang satu ini tentu dangat dekat dengan Indonesia karena lingkupnya adalah negara-negara ASEAN. Tujuan utama dari program ini adalah untuk mempererat hubungan persaudaraan serta juga toleransi dari pada pemuda yang tinggal di 10 negara ASEAN serta Jepang. Perluasan sudut pandang dari para peserta program ini juga dijadikan sebagai satu tujuan dalam kaitannya untuk memperkuat semangat dan hubungan kerjasama internasional antar negara. Seperti nama dari program ini, kapal merupakan media ataualat transportasi yang disediakan untuk program ini. Jadi selama didalam kapal bisa dimanfaatkan untuk berbagi cerita dan juga saling mengenal satu sama lain. Berbagai diskusi tentu bisa dilakukan dengan para peserta dari negara lain baik ketika berada didalam kapal maupun ketika di negara-negara yang dikunjungi.

Biar kamu bisa ikutan program yang ini, kamu wajib cari informasi yang lebih lengkap di sini http://www.sseaypindonesia.org/ atau di http://www8.cao.go.jp/youth/kouryu/h14/sseayp/sseayp-main-e.html. Semoga Sukses!

Nah itu tadi beberapa dari program pertukaran pelajar internasional atau Exchange Program yang bisa kamu ambil sebagai pelajar maupun mahasiswa dari Indonesia. Tentunya masih sangat banyak lagi program-program sejenis dan bisa kamu manfaatkan untuk bisa merasakan sensasi berada di negara lain yang bisa jadi nanti kamu bisa menempuh studi lanjutan disana.



Les untuk SD di Lhokseumawe

Mengapa Belajar Bahasa Inggris Itu Penting? Di era global saat ini, kemampuan berbahasa Inggris bukan lagi sekadar nilai tambah, tetapi tela...